Bantal empuk untuk sang buta, hanya sebentar.
Melambai halus kiri kanan bagai ladung,
Seperti menimang bebola mata lelan dibuai hipnosis,
Jiwa dan kacang fikiran lelah,
Meletup belulang rangka,
istiqamah hamba raga dunia,
yang kepada siapa entah,
Untuk apa entah.
Khayal.....
khayal hayati watak dalam mimpi,
Kerna ia dan isinya mangsa rakus dunia,
yang merantai setiap sendi,
mengunci senda tawa,
dan memaksa sendu tangis.
Kelopak mata terkunci,
ia sengaja, ingin mendakap mimpi selamanya,
mimpinya seperti membujuk hatinya,
bagai edan kesmaran tertusuk di cinta yang paling dalam,
Masyghul...
sungai tangis menitis dari kelopak kalbunya,
yang ditera sayembara mimpi,
satu retorik kesal,
sekian lama bermukim di bangsal kasta bajingan,
dan panglipur khayal menceroboh roh jiwa dan akal,
menjanjikan adipati helang tenang di sisi candala pipit,
gagak cela bercinta dengan sang merak kusuma.
Niat pemula menitip sesal dan kesal yang mencelaka,
Di noktah pengakhirannya.